Showing posts with label komunikasi. Show all posts
Showing posts with label komunikasi. Show all posts

Tuesday, 7 October 2025

Komunikasi Leadership

Komunikasi Leadership Ialah Komunikasi Sebuah Perjuangan

Ini ialah Greta Thunberg, beliau seorang remaja yang mengetuai GSF. Apabila dicolek Israhell, beliau antara yang teruk dipukul dan diseksa.

Walaupun beliau ada isu dalam perkara lain. Kali ini kita fokus cara beliau berkomunikasi untuk kita belajar bagaimana cara seorang leader berkomunikasi dan menyampaikan suara perjuangan.

Apabila dibebaskan dan sampai sahaja di negaranya, beliau langsung tidak ada sepatah pun menceritakan pengalaman peribadinya dan pengalaman rakan GSF yang lain hadapi apabila dicolek oleh Israhell. 

Beliau fokus kepada apa yang mereka perjuangkan iaitu menghentikan genosid di G. Langsung tiada ucapan meraih simpati dan ucapan tangis air mata mengenangkan kembali apa yang mereka hadapi di Israhell.

Itulah cara Rasulullah Sollallahu 'Alayhi wa Sallam seorang leader berkomunikasi. Apabila kita telusuri jejak sirah secara mendalam. 

Kita akan perasan, baginda tidak meraih simpati secara emosi apabila tiba di Madinah. Langsung tidak ada ucapan menceritakan pengalaman dihina, dicerca, dipulau dan hampir dibunuh semasa di Mekah. 

Lebih teruk, apa yang Rasulullah hadapi datang daripada makar keluarga sendiri. Namun, apabila sampai di Madinah, sepatah pun tidak ada cerita tentang apa yang baginda hadapi selama 13 tahun di Mekah.

Dari ‘Abdullah bin Salâm, beliau berkata: “Ketika Rasulullah Sollahu 'Alayhi wa Sallam datang ke Madinah, orang ramai segera pergi menuju kepada baginda Sollahu 'Alayhi wa Sallam (untuk melihat baginda). 

Ada yang mengatakan: Rasulullah telah datang, lalu saya menuju kepadanya di tengah  orang ramai untuk melihatnya. Ketika saya melihat wajah Rasulullah Sollahu 'Alayhi wa Sallam, saya mengetahui bahawa wajah baginda bukanlah wajah pembohong. 

Dan yang pertama kali baginda ucapkan adalah;

'Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makan, sambunglah silaturrahim, solatlah di waktu malam ketika orang-orang tidur, tentu saudara semua akan masuk syurga dengan selamat'."- Sunan al-Tirmizi (Hasan Sahih)

Ucapan Nabi berlaku selepas menempuh perjalanan panjang selama seminggu dari Mekah. Berdepan dengan cubaan bunuh dan kehabisan bekalan makanan di tengah jalan. 

Membawa hati dan perjuangan dari tanah tumpah darah sendiri dengan hati yang luka yang entah bila akan kembali.

Dihina, dicaci oleh kaum kabilah keluarga sendiri. Meninggalkan segala kenangan dan memori demi sebuah perjuangan.

Tidak logik bagi seorang manusia tidak akan bersedih dan terkesan dengan situasi ini.

Seorang leader itu akan berkomunikasi dengan memberi fokus kepada inti perjuangannya. Bukan tentang dirinya, bukan tentang ahli keluarga atau rakan-rakannya.

Bukan cerita dirinya dihina dan dikhianati, bukan cerita sakit badannya, atau hutang yang ditanggungi. 

Seorang leader akan fokus pada visi perjuangan yang didukung bersama oleh para penyokong dan sahabat yang setia.

Apakah inti perjuangan kita? Dan apakah yang kita tulis dan cakap setiap hari?

Saifuddin Yusof 
Komunikasi Leadership

Nota: Tangkap layar gambar daripada video TT NBC.

Tuesday, 10 March 2020

Prinsip - Prinsip Komunikasi Islam

A.      PENDAHULUAN
Komunikasi Islam tunduk dengan sumber utama ajara Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Dari sumber inilah prinsip-prinsip dasar Ilmu Komunikasi Islam diambil. Dengan memahami prinsip-prinsip dasar Komunikasi dalam Islam diharapkan pembaca akan memiliki rambu-rambu yang membantuya dalam berkomunikasi sesuai dengan aturan umum ajaran Islam. Prinsip-prinsip berlaku umum untuk segala bentuk komunikasi dengan sesamam manusia.

Adapun prinsip-prisip dasar Komunikasi Islam tersebut adalah: prinsip ikhlas, prinsip pahala dan dosa, prinsip kejujuran, prinsip keberhasilan, prinsip berkata positif, prinsip paket, prinsip dua telinga satu mulut, prinsip pengawasan, prinsip selektivitas dan validitas, prinsip saling mempengaruhi, prinsip keseimbangan berita, dan prinsip privacy.

B.       PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI ISLAM
1.         Prinsip pertama: Ikhlas
Suatu pesaan tidak akan berdampak postif kepada komunikan jika diterima dengan hati yang tidak ikhlas. Ikhlas adalah kerja hati.
Prinsip ikhlas ini adalah prinsip paling mendasar dalam Komunikasi Islam. Kehilangan prinsip dari dari komunikasi maupun komunikan akan membuat tujuan utama komunikasi yaitu ibadah menjadi hilang dan kekuatan pesan yang disampaikan memudar.  Kehilangan prinsip ini dari salah satu pihak akan membuat proses komunikasi terhambat apalagi bertemu antara ketidakikhlasan dengan komunikan
Selain faktor penerima pesan, kekuata pesan juga dipengaruhi oleh pengirim pesan. Pesan yang baik yang disampaikan oleh orang yang tidak ikhlas tidak memiliki pengaruh pada penerimanya.

Menakar Keikhlasan
Ikhlas tempatnya adalahhati. Karena tempatnya di hati, maka kita tidak mungkin mengukur tingkat keikhlasan yang tempatnya di hati. Namun keikhlasan itu ada jejaknya, apa yang ada di dalam hati akan terungkap lewat anggota tubuh. Ketika telinga mendengar berita duka, hati ikut bersedih, dan ketika hati bersedih mata pun bereaksi dengan mengeluarkan air mata.
Selain menyerap pesan, keikhlasan akan berdampak kepada kesungguhan untuk menyaring pesan serta mengambil pesan yang paling berkualitas.
Kemampuan menyaring pesan dan mengambil yang terbaik disebutkan dalam firman Allah Surah Al-Zumar ayat 17-18:
“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah-_nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka adalah berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
Dari ayat di atas disebutkan bahwa keinginan yang serius menyaring informasi dan menerapkan pesan yang paling baik adalah cirri orang yang berakal yang mendapatkan petunjuk dari Allah swt.
Berdasarkan dalil di atas disimpulkan bahwa ikhlas dalam komunikasi adalah pilar utama untuk mendapatkan komunikasi yang berkualitas :mendaptakan pahala, selektif, dan produkif.

2.         Prinsip kedua: Prinsip Pahala dan Dosa
Prinsip ini menjelaskan bahwa setiap pesan atau pernyataan yang keluar itu mengandung konsekuensi pahala dan dosa. Lisan memiliki peran kunci dalam berkomunikasi apakah membawa kita kepada kesuksesan atau kehancuran.
Agar lisan kita tidak menjadi alat pengumpul dosa tetapi selalu memproduksi pahala, maka lisan membimbing manusia terutama umat Islam untuk melakukan langkah-langkah berikut:
1.         Islam melarang berkata kotor dan kasar
Kata yang kotor adalah cerminan hati yang kotor. Sedangkan jiwa yang bersih berdampak pada ucapan dan tingkah laku sehari-harinya.
2.         Memberikan motivasi agar selalu berkata yang baik.
Rasulullah memebrikan motivasi kepada orang yang berkata baik dengan berbagai macam cara, di antaranya:
a.     Menyampaikan kabar gembira kepada orang yang selalu berkata baik dan mewanti-wanti orang-orang yang sembarangan mengeluarkan pernyataan.
b.      Berkata yang baik menyebabkan masuk surga dan ,endapatkan tempat yang baik di sana.
c.       Berkata baik dikategorikan memberi sedekah atau pengganti pemberi sedekah.
d.        Islam identik dengan ucapan yang baik.

3.         Prinsip Ketiga: Prinsip Kejujuran
Lisan bisa membunuh karakter seseorang, bisa merusak hubungan suami istri, kaum kerabat, bahkan bisa menyebabkan pertumpahan darah. Gara-gara lisan, suatu komunitas bisa hancur berantakan.
Karena itu kejujuran dalam menyampaikan pesan adalah prinsip mendasar dalam Komunikasi Islam. Tidak tegaknya prinsip ini akan berakibat fatal buat kehidupan manusia.
Di antara bentuk kejujuran dalam berkomunikasi adalah:
a.         Tidak memutarbalikkan fakta
b.         Tidak berdusta

4.         Prinsip Keempat: Prinsip Kebersihan
Islam sangat menekankan prinsip kebersihan dalam segala hal, termasuk dalam menyampaikan pesan. Pesan yang baik akan mendatangkan kenyamanan psikologis bagi yang menrimanya, sedangkan pesan-pesan yang jelek akan berdampak pada keruhnya  hati.
Seseorang yang mengungkapkan kata-kata yang baik akan membuat hatinya tenang. Itulah rahasia dari perintah Allah yang menganjurkan kita banyak mengucapkan dzikir.
Menyampaikan kata-kata yang memberikan harapan kepada seseorang adalah lebih baik daripada kata-kata yang membuat orang pesimis. Di antara tujuan komunikasi adalah memberikan kenyamanan psikologis kepada orang yang mendengarkan.

5.         Prinsip Kelima: Berkata Positif
Pesan positif sangat berpengaruh bagi kebahagiaan seseorang dalam kondisi apapun dia berada. Seorang komunikator yang sering mengirim pesan positif kepada komunikan akan menyimpan modal yang banyak untuk berbuat positif.
Ketika mendapatkan ancaman keamanan saat menjalankan dakwahnya, Imam Ibnu Taimiyah mengirimkan pesan positif pada dirinya: “Apa yang akan dilakukan oelh musuh-musuhku? Tamanku dan surga berada dalam dadaku. Mereka membunuhku sama mengantarkanku ke surga, mereka mengasingkanku berarti mengajakku bertamasya, jika mereka memenjarakanku berarti mereka menyuruhku untuk beristirahat.

Motivasi adalah Pesan Positif
Pesan yang diungkapkan dengan bahasa yang penuh optimis membangitkan semangat untuk melakukan perubahan.
Menyampaikan pesan dengan nada optimis adalah langkah awal menuju kemenangan. Optimis yang dibangun oleh seseorang menyebabkannya bergairah untuk menggapainya. Nabi Muhammad selalu mendidik sahabatnya dengan bahasa optimis.
Optimisme juga adalah langkah awal melangkah menuju Surga. Rasulullah mengaakan bahwa kalau seseorang berdo’a meminta surga, jangan meminta surga yang sekedarnya, tapi mintalah surga paling mewah, yaitu Firdaus. Dengan meminta Firdaus kita termotivasi untuk lebih bekerja keras agar usaha yang kita lakukan dianggap pantas untuk mewujudkan apa yang kita minta dan cita-citakan.

6.         Prinsip Keenam: Prinsip Pikat (Hati, Lisan dan Perbuatan)
Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dalam satu paket lngkap. Ada unsure jiwa dan ada unsure raga. Gerak raga dalam konsep Islam dipengaruhi secara kuat oleh hati atau jiwa. Artinya, lisan akan berbicara yang baik manakala hatinya baik, lisan tidak akan mampu berbicara baik dan lancer tanpa kendali dari jiwanya, yang diungkapkannya akan terasa hambar.
Konsistensi antara hati, kata dan perbuatan adalah ciri manusia sukses. Allah tidak menyukai inkosistensi. Tidak hanya Allah, manusia secara umum juga memandang bahwa inkonsistensi adalah cacat yang membuat nilai seseorang menjadi berkurang. Sebab, inkonsistensi adalah ciri kemunafikan.

7.         Prinsip Ketujuh: Prinsip Dua Teliga Satu Mulut
Menceritakan kembali semua yang didengar addaah tanda kecerobohan seseorang. Menceritaka kembali semua yang didengar akan beresiko memiliki tingkat kesalahan yang banyak.
Isyarat agar kita brhati-hati dalam berbicara dan banyak mendengar adalah pada stuktur fisik kita yang diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Setelah informasi ditangkap oelhe telinga, informasi tersebut disaring oelh perangkat akal dan sebelum dikeluarkan oleh lisan melalui mulut, lisan kita dikawal oleh gigi-gigi kita yang jumlah 32 itu.
Orang yang cerdas adalah orang yang mampu memilah-milah informasi dan hanya mengambil yang terbaik dari informasi yang diterima.
8.         Prinsip Kedelapan: Prinsip Pengawasan
Prinsip pengawasan muncul dari kepercayaan mukmin yang meyakini bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui. Selain itu, mereka juga meyakini bahwa setiap kata yang diucapkan akan dicatat oleh malaikat pencatat.
Prinsip pengawasan ini akan membuat orang selalu merasa diperhatikan dan dipantau. Orang yang selalu dipantau biasanya lebih berhati-hati dalam mengeluarkan statemen.

9.         Prinsip Kesembilan: Prinsip Selektivitas dan Vadilitas
Berbicara dengan data dan informasi akurat adalah salah satu ciri pribadi berkualitas. Selain menambah kredibilitas, informasi yang akurat menghindarkan kita jatuh kepda kesalahan yang berujung kepada penyesalan.
Prinsip seletivitas dan vadilitas dalam Komunikasi Islam bukan hanya bertujuan untuk memberikan kepuasan bagi komunikan di dunia ini, tetapi tujuan utama mereka adalah agar bisa mempertanggungjawabkan apa yang mereka kemukakan pada saat diminta pertanggungjawabannya di akhirat.

10.     Prinsip Kesepuluh: Prinsip Saling Mempengaruhi
Komunikasi antar manusia merupakan aktivitas menyampaikan dan menerima pesan dari dan kepada orang lain. Saat berlangsung komunikasi, proses pengaruh mempengaruhi terjadi.
Karena muara semua tujuan komunikasi adalah saling mempengaruhi, maka membangun komunikasi yang bertujuan untuk menciptakan suasana yan sehat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Islam. Pengaruh pesan tersebut tidak hanya sesaat, tetapi kadang-kadang kekal sepanjang hidup komunikan
Di antara bentuk pengaruh strategis komunikasi adalah:
a.         Dapat merubah pendapat orang lain
b.         Menjadi faktor yang menentukan baik buruknya manusia

11.     Prinsip Kesebelas: Prinsip Keseimbangan Berita (Keadilan)
Informasi yang seimbang akan membuat keputusan menjadi akurat. Prinsip perimbangan dalam menyerap informasi sebelum memberikan sikap adalah keharusan.
Dengan prinsip ini, informasi yang kita terima akan lebih akurat, karen apihak yang sedang berselisih kadang-kadang memberikan informasi secra emosional dan kadang-kadang berlebihan.

12.     Prinsip Keduabelas: Prinsip Privacy
Setiap orang memiliki ruang privacy yang tidak boleh diungkap di pentas public, begitu juga dengan organisasi, lembaga dan seterusnya. Membocorkan rahasia sama dengan menelanjangi orang, organisasi dan lembaga dan membuat mereka malu.
Allah melarang orang beriman untuk mencar-cari informasi tentang masalah yang masuk dalam ruang privacy.
Di antara masalah yang termasuk dalam ruang privacy adalah masalah keretakan rumah tangga. Islam mengarahkan kaum muslimin agar menyelesaikan permasalahan yang terjadi dengan melibatkan pihak yang sangat terbatas.
Melanggar masalah privacy seperti ini di dalam Islam termasuk ke dalam status pelanggaran hak-hak asasi manusia, yaitu melakukan pencemaran nama baik.

Sumber

Istilah Komunikasi Dalam al-Quran

A.      PENDAHULUAN
Dalam Al-Qur’an dan hadits ditemukan cukup banyak istilah-istilah yang terkaitdengan Ilmu Komunikasi. Di antara istilah tersebut adalah lafdz, qaul, kalam, nuthq, naba’, khabar hiwar, jidal, bayan, tadzkir, tabsyir, indzar, tahridh wa’adz, dakwah, ta’aruf, tawashi, tabligh dan irsyad.

Dari kata-kata di atas, yang termasuk dalam jenis pesan adalah lafdz, qaul, kalam, dan nuthq. Naba’, khabar dan hadits masuk dalam kategori kekuatan pesan. Sedangkan  hiwar, jidal, bayan, tadzkir, tabsyir, indzar, wa’adz, dakwah, ta’arusf, tawashi, tabligh, irsyad, termasuk metode menyampikan pesan. Hasil dari penyampaian pesan dengan metode-metode di atas akan berdampak kepda manfaat pesan.

B.       JENIS PESAN
Pesan adalah seperangkat lambnag bermakna yang disampaikan oleh komunikator. Pesan terbagi menjadi dua: pesan verbal dan non verbal. Simbol bahasa verbal adalah kata, baik terucap maupun yang tertulis. Sedangkan komunikasi non verbal adalah pesan nonlingustic yang diidyaratka oleh anggota tubuh untuk menunjukkan sikap dan penampilan.
1.        Pesan Verbal
Untuk pesan verbal paling sedikit ada tiga jenis dalam Al-Qur’an. Tiga jenis itu adalah:
a.         Lafdz, yaitu bunyi yang kita keluarkan dari mulut ibarat bunyi atau symbol yang kita lemparkan dari mulut kita. Lafdz juga dipahami sebagai pesan paling sederhana yang keluar dari lisan seseorang yang dapat dipahami maknanya.
b.         Qaul, kata yang mengandung makna dan keluar dari lisan atas dasar kesengajaan dan kesadaran penuh dari orang yang mengucapkan. Qaul dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
1.      Qaulan Ma’rufan; yaitu perkataan yang baik yang membawa kebaikan dunia dan akhirat.
2.   Qaulan Kariman; yaitu perkataan yang mulia dan berharga. Ungkapan yang indah dan penuh dengan adab sehingga orang yang diajak bicara merasa bahagia, dihormati dan dimuliakan.
3.   Qaulan Maysuran; yaitu perkataan yang mudah, perkataan yang mudah diterima oleh komunikan dan komunikatornya juga mendapatkan kemudahan dalam menyampaikan perkataan.
4.    Qaulan Balighan; yaitu perkataan yang sampai kepada maksud, pengaruh dan berbekas kepada jiwa.
5.      Qaulan Layyinan; yaitu perkataan yang lemah lembut.
6.      Qaulan Sadidan; yaitu perkataan yang benar.
7.   Qaulan Tsaqilan; yaitu perkataan yang berat, atau kata-kata yang berbobot dan penuh makna, memiliki nilai yang mendalam, memerlukan perenungan untuk memahaminya, dan bertahan lama.
8.     Qaulan ‘Adziman; yaitu perkataan yang besar. Kata-kata yang besar maksudnya di sini besar kekejiannya, besar kelancangannya, besar kedustaan dan jauh dari keluarganya dari hal yang sebenarnya.

c.        Kalimat, adalah susunan lafdz yang mengandung makna yang sempurna. Kalimat lebih luas cakupannya dari pada Qaul. Kata kalimat dalam Al-Qur’an tidak berdiri sendiri, tetapi digandeng dengan kata yang lain. Setidaknya ada tujuh tempat yang menyebutkan kata “kalimat” yang sdah disandingkan dengan kata lain.
1.     Kalimatullah; yaitu kalimat Allah yang berhubungan dengan agama Allah, hukum Allah, syariat Allah, dan segala halyang bersumber dari Allah baik perintah maupun larangan. Al-Qur’an menyatakan bahwa kalimatullah itu tinggi. Ibnu Abbas mengatakan bahwa alimatullah artinya adalah kalimat tauhid, la ilaha illallah.
2.       Kalimat Alladzina Kafaru; yaitu kalimat orang-orang yang mengingkari kebenaran.
3.   Kalimatun sawa’; yaitu kalimat yang sama atau kalimat yang adil. Adil maksudnya adalah kalimat yang berdiri di tengah dan disepakatai oleh kalangan intelektual yang objektif dari hasil penelitian yang akurat tentang sesuatu.
4.   Kalimat Al-Kufr; yaitu kalimat yang mengandung makna terhadap kebenaran, atau mengandung unsure pelecehan terhadap nilai-nilai kebenarandan orang-orang yang membawa nilai kebenaran.
5.      Kalimat Al-Taqwa; adalah kalimat yang berfungsi melindungi. Para ulama tafsir secara umum mengatakan bahwa yang dimaksud denga kalimat al-taqwa adalah kalimat la ilaha illallah.
6.     Kalimat al-Thayyibah; adalah kalimat yang baik. Termasuk dalam kalimat baik adalah kalimat tauhid seperti La ilaha illallah dan segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik.
7.        Kalimat al-Khabitsah; kalimat yang buruk, jelek, kotor, hina, rusak dan rendah.

2.        Pesan Non Verbal
Pesan non verbal adalah bahsa isyaratmata, wajah, tangan, kaki, gerakan tubuh, bibir, kepala, dan seterusnya. Bahkan bisa dikatakan bahwa isyarat tentang pesan non verbal dalam Al-Qur’an meliputi isyarat dari ujung kepala sampai ujung kaki.

C.      KEKUATAN PESAN
Pesan yang dikirim oleh seseorang memiliki pengaruh yang berbeda antara satu dengan yang lain, baik pengaruh positif maupun negatif. Ada pesan yang memiliki kekuatan serta berdampak luas, dan ada pesan yang biasa saja, tidak terlalu berdampak besar, dan kadang-kdang dianggap oleh pendengar atau pembacanya seperti angin lalu saja.


1.        Naba’
      Naba’ adalah khabar yang memiliki manfaat yang besar yang bisa menghasilkan kualitas berita sampai derajat ilmu (akurat) atau ghalabat al-dzann (kemungkinan benarnya lebih besar). Naba’ juga bukan sekedar berita, tetapi berita penting yang akan mendapatkan perhatian luas dari masyarakat.
Selain itu, naba’ juga menyiratkan makna bahwa berita yang disebut dengan naba’ adalah berita dari sumber utama kepada orang yang belum tahu tentang informasi tersebut,
Jadi, naba’ adalah isu-isu besar yang berimpikasi luas di tengah masyarakat. Agar tidak menimbulkan gejolak, berita yang masuk dalam kategori naba’ harus betul-betul akurat.

2.        Khabar
Khabar adalah berita yang dipindahkan dari orang lain dan bisa juga bersumber dari diri sendiri dan mengandung dua kemungkinan, benar atau salah. Meskipun naba’ juga bisa mengandung dua kemungkinan benar atau salah, tetapi isi pesannya secara umum mengandung perhatian yang luas dan berdampak luas, sedangkan khabar tidak selalu seperti itu.

3.        Hadits
Perbedaan lain, kalau khabar biasanya bersumber dari orang lain, maka hadits adalah berita baru yang biasanya bersumber dari orang ynag membawa berita. Tetapi setelah itu dua kata ini seolah-olah tidak bisa dipisahkan lagi pemakaiannya.

Shidq dan Kadzib
Istilah yang tidak bisa dipisahkan dari naba’, khabar, dan hadits. Shidq adalah benar atau jujur. Sedangkan kadzib adalah dusta. Shidq dan kadzib tidak bisa terjadi pada ketiga-tiga jenis pesan di atas. Hanya berita dari Allah dan Rasul-Nya saja yang tidak diragukan kebenrannya. Sedangkan sumber berita dari yang lain tetap tunduk kepada kaidah benar dan dusta.

D.      METODE MENYAMPAIKAN PESAN
1.         Hiwar
Hiwar menurut bahasa artinya pembicaraan yang berlangsung di antara dua orang atau kebih. Hiwar juga berarti bertukar pikiran dan saling mengoreksi dalam pembicaraan. Sedangkan menurut istilah, hiwar artinya mengoreksi dalam pembicaraan yang berlangsung di antara dua orang atau lebih yang bertujuan untuk menyampaikan informasi atau meyakinkan orang lain dalam suasana tenang dan tidak panas.
2.         Jidal
Jidal menurut bahasa berarti memintal benang. Kata ini memberikan inspirasi bahwa jidal adalah upaya untuk merajut benang-benang yang kusut.
Dalam jidal masing-masing pihak berusaha untuk meyakinkan dan mengalahkan lawannya dengan kata-kata telak dan kadang-kadang bercampur dengan suasana panas. Dalam bahasa Indonesia, jidal lebih dekat diartikan dengan debat.
3.         Bayan
Secara bahasa, bayan artinya adalah jelas atau terang. Sedangkan menurut istilah, bayan berarti menjelaskan tujuan dengan pilihan kata yang paling tepat.
Al-Jurjani menjelaskan bahwa bayan artinya menjelaskan maksud kepada orang yang mendengar.
4.         Tadzkir
Tadzkir berasal dari kata dzakara yang berarti mengingat. Ketika bangun katanya menjadi dzakkara-tadzkir artinya berubah menjadi mengingatkan atau memberikan peringatan.
5.         Tabligh
Dasar kata tabligh adalah balagha. Kata ini secara umum berarti selesai, berakhir atau sampai, yang bisa digunakan untuk tempat, masa, atau sesuatu abstrak.
6.         Tabsyir
Tabsyir berasal dari kata busyra dan bisyarah yang artinya adalah bahagia dan gembira. Sedangkan kata tabsyir artinya adalah menyampaikan kabar bahagia dan gembira.
7.         Indzar
Indzar secara bahasa berarti menyampaikan pesan dengan cara mengingatkan yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa takut dan kehati-hatian, baik untuk diri komunikator maupun komunikan. Indzar selalu terkait dengan mengingatkan orang untuk tidak melakukan perbuatan yang merugikan mereka di masa depannya, baik di dunia maupun di akhirat.
8.         Ta’aruf
Ta’aruf secara bahasa berasal dari kata ‘afara yang berarti tahu atau kenal.ketika bangun, kata berubagh menjdai ta’aruf maka kata ini bermakna salingmengetahui atau saling mengenal tanda-tanda atau cirri-ciri orang, baik lewat nama, cara berbicara, watak dan karakter, dan berbagai aspek lainnya.
9.         Tawashi’
Tawashi berasal dari kata wasiat yang secara bahasa artinya bersambung. Kata wasiat dalam Al-Qur’an secara umum dapat diategorikan dalam dua kelompok makna. Kelompok pertama, wasiat dalam arti menyampikan pesan berharga, dan kedua wasiat dalam arti menyampaikan pesan terkait dengan harta.
10.     Nasihat
Nasihat menurut bahasa artinya murni, jernih, bersih, tanpa noda. Nasihat mengandung makna yang dalam dan memiliki fungsi yang banyak. Tujuan di balik nasihat adalah agar orang yang mendapatkan nasihat dapat mengambil manfaat dan memtik buahnya. Di dalam nasihat ada suasana keakraban dan kecintaan, ada perasaan senasib, ada rasa empati. Dalam diri orang yang diberikan nasihat dapat menjadi seperti dirinya atau manjadi orang yang lebih baik lagi.
11.     Irsyad
Irsyad berasal dari rasyada, artinya mencari petunjuk ke jalan yang lurus lawan dari kata sesat. Irsyad artinya proses membantu seseorang dalam mengatasi permasalahan pribadinya dengan mengarahkan dirinya sendiri.
12.     Wa’dz atau Mau’idzah
Wa’dz atau Mau’idzah adalah jenis komunikasi yang bertujuan untuk melunakkan hati yang mendengarkannya. Lunaknya hati terefleksi pada linangan air mata, goncangnya dada saat mendengarkan pesan, dan munculnya tekad untuk berubah.
13.     Idkhal al-Surur
Di antara perintah Islam terhadap umatnya adalah perintah membahagiakan orang lain, baik dengan kata maupun dengan perbuatan.
Banyak cara untuk membahagiak sesama, di antaranya dengan mengucapkan selamat atas kesuksesan yang diraih oleh teman, mengucapkan belasungkawa dan turut berduka atas musibah yang menimpa saudara kita, atau menebar senyuman dan wajah ceria saat bertemu, meringankan beban saudara-saudara kesusahan, dan lain-lain.

Sumber