Kembara Insan
I write to inspire, to create, to motivate.
Friday, 31 July 2026
The Decision That Shaped My Life
Tuesday, 28 July 2026
Sajak Dari Bintang Ke Bintang - Usman Awang
Sajak "Dari Bintang ke
Bintang" karya Sasterawan Negara Malaysia Usman Awang adalah sebuah
karya romantis yang menggambarkan rasa cinta mendalam, kenangan manis, serta
keperihan melihat kekasih hati bersanding dengan pilihan orang lain. Anda dapat
membaca bait lengkap sajak ini yang bersumber dari arsip.
Isi Sajak
Sajak ini berkisah tentang
pertemuan awal yang penuh cinta, kebahagiaan yang dirasakan, hingga kenyataan
pahit melihat sang kekasih bersanding di pelamin. Anda dapat membaca teks
lengkapnya melalui sumber. [
Tema dan Makna
- Cinta Bersemi: Menggambarkan kekaguman dan
getaran jiwa saat cinta pertama kali dirasakan.
- Kenyataan Pahit: Kesedihan mendalam penyair
melihat sang kekasih menikah dengan orang lain.
- Kenangan Abadi: Bayangan kekasih yang tetap
hidup dalam ingatan, terbayang di antara bintang-bintang.
Sajak
DARI BINTANG KE
BINTANG ~ Usman Awang
Ketika mata saling
menyapa senyum berbunga
Tasik hati mu
mencecah jiwaku mesra
Betapa debar dada
kurnia alam kasih bertakhta
Kau datang tanpa suara, menjamahku tanpa sabda
Subur laksana ladang
petani di lereng gunung
Ranum menguntum dalam
wujud rasa maha agung
Mata yang memberi
hati ini penuh menanti
Kureguk kasih
menghadapi hidup seluruh berani
Ini kulihat kepalamu tersandar di jinjang pelamin
Rambutmu tersanggul terandam mengilau di cahaya
lilin
Gemersik kainmu membisikkan bahagia malam
pengantin
Melimpah tumpah
bahagia dalam tawa teman keliling
Ketika malam kulihat matamu pada bintang
Senyummu melambai di gemilang sinar bulan
Dari bintang ke bintang kunantikan lagumu
Hanya kerdipan dalam bisu suara hatiku bimbang
Jika aku berdiri di muka jendela hati terluka
Bulan sedang
mengintai di balik awan kusapa
Angin yang datang
dari pelaminmu kutanya
Ia bisa mengabarkan
saat adinda sedang bahagia
( 1960 - Puisi-Puisi Pilihan Sasterawan Negara, DBP 1991)
Pak Utih Usman Awang 1954
Sajak "Pak Utih" karya Usman Awang adalah sebuah puisi satira sosial tahun 1954 yang menggambarkan kemiskinan petani desa, beban penderitaan keluarga, dan kelalaian janji para pemimpin.
Tema dan Maksud Sajak
- Kehidupan Petani Miskin: Menceritakan Pak Utih
yang bekerja keras di atas tanah tandus demi menyara seorang istri dan
lima orang anak.
- Penyakit dan Kesulitan: Menyoroti bagaimana
keluarga kecil itu tersiksa oleh penyakit malaria tanpa akses perobatan
yang sempurna.
- Kritik Sosial: Menyindir pihak penguasa atau
pemimpin yang lupa daratan dan mengabaikan nasib rakyat kecil setelah
mereka berkuasa.
Sajak Pak Utih
Punya satu isteri mau dakap sampai mati,
Lima anak mau makan setiap hari,
Teratak tua digayuti cerita
pusaka,
Sebidang tanah tandus untuk huma.
Kulit tangan tegang berbelulang,
Biasa keluarkan peluh berapa
saja,
O Pak Utih, petani yang berjasa.
Tapi malaria senang menjenguk
mereka,
Meski dalam sembahyang doa
berjuta,
Dan Mak Utih bisa panggil dukun
kampung,
Lalu jampi matera serapah berulang-ulang.
Betapa Pak Dukun dan bekalan
pulang,
Wang dan ayam dara diikat
bersilang.
II
Di kota pemimpin
berteriak-teriak,
Pilihanraya dan kemerdekaan
rakyat,
Seribu kemakmuran dalam negara
berdaulat,
Jambatan mas kemakmuran sampai ke
akhirat.
Ketika kemenangan bersinar
gemilang,
Pemimpin atas mobil maju ke
depan, dadanya terbuka,
Ah, rakyat tercinta melambaikan
tangan mereka.
Di mana-mana jamuan dan pesta
makan,
Ayam panggang yang enak di depan,
Datang dari desa yang dijanjikan
kemakmuran.
Pak Utih masih menanti dengan
doa,
Bapak-bapak pergi ke mana di
mobil besar?
Usman Awang, 1954
Kesusasteraan
Su = baik, indah, cantik, seni dan berguna.
Sastra = karya ( lisan/bertulis) atau buku.Susastra = karya yang indah dan berguna.
Kesusasteraan = semua bentuk karya bernilai seni dan berguna
Senarai Sasterawan Negara
1. 1981 : Kamaluddin Muhamad atau Keris Mas
2. 1982 : Prof. Emeritus Dato' Dr. Shahnon Ahmad
3. 1983 : Datuk Dr. Usman Awang
4. 1986 : Datuk Dr. A. Samad Said
5. 1988 : Muhammad Dahlan bin Abdul Biang atau Arena Wati
6. 1991 : Prof. Dr. Muhammad Haji Salleh
7. 1993 : Datuk Noordin Hasan
8. 1996 : Datuk Abdullah Hussain
9. 2001 : S. Othman Kelantan atau Dr. Syed Othman Syed Kelantan
10. 2009 : Dato' Dr. Anwar Ridhwan
11. 2011 : Datuk Dr. Ahmad Kamal Abdullah (Kemala)
12. 2013 : Datuk Hj. Baharuddin Zainal
13. 2016: Datuk Dr. Zurinah Hassan
Monday, 27 July 2026
The Day I Couldn't Move
There are moments in life that divide our journey into two parts: before and after. For me, that moment came in the middle of 2021, during the second phase of the COVID-19 pandemic.
Looking back, perhaps the warning signs had been there all along.
For more than fifteen years, I had worked in the palm oil industry, travelling countless kilometres along rough gravel roads to remote plantations. Long hours behind the steering wheel had become a normal part of my life. Then came COVID-19. Like millions of others, I spent nearly two years working from home, sitting through endless online meetings with very little movement. Age was catching up with me too, although I rarely admitted it.
I thought I was doing just fine.
One ordinary weekend, I cleaned the house, worked in the garden, and cooked lunch for my family. It felt like a productive day. Afterwards, I decided to lie down and have a short rest.
Then, everything changed.
Without warning, an unbearable pain shot through my lower back. Within seconds, I collapsed onto the living room floor. I tried to move—but I couldn't. Even the slightest movement sent waves of agony through my body.
Panic set in.
I called my wife. Then my friends. An ambulance soon arrived.
The pain was unlike anything I had ever experienced.
Because Malaysia was still under strict COVID-19 restrictions, I had to face the hospital alone. My wife and children could not visit me. Those three days felt much longer than seventy-two hours.
For three days, I could barely move. I couldn't even walk to the toilet without assistance. The pain was relentless, and the loneliness was equally difficult. There were moments when I simply stared at the hospital ceiling, thinking about life.
After several days of lumbar traction treatment, something extraordinary happened.
For the first time, I managed to stand.
They were only a few small steps to the toilet, but to me, they felt like climbing a mountain.
I had never appreciated the simple act of standing, walking, or moving until that day.
On the fourth day, I was discharged.
When I reached home and saw my wife and my children waiting for me, something deep inside me changed forever.
I asked myself a question that many of us avoid.
"What if I don't wake up tomorrow?"
That single question reshaped my priorities.
I realised that I had spent years building a career, solving problems, chasing deadlines and responsibilities. Yet I had often postponed taking care of the one asset that made everything else possible—my health.
That day, I made a promise to myself.
I would take better care of my body.
I would lose weight.
I would exercise regularly.
I would not wait until illness forced me to appreciate good health.
But the lessons went beyond physical fitness.
I promised myself that I would spend more quality time with my wife and my children.
I would visit my parents, relatives, and friends more often.
I would stop wasting energy on arguments, pride, and unnecessary conflicts.
Life is simply too short to carry unnecessary burdens.
Instead, I wanted to do more good.
To help more people.
To forgive more quickly.
To smile more often.
To appreciate every sunrise, every conversation, every meal shared with family, and every opportunity to make someone's day a little brighter.
I also promised myself something I had always dreamed about.
I wanted to see the world.
Not because I wanted to escape life, but because I wanted to experience it fully.
Every country has a story.
Every journey teaches a lesson.
Every destination reminds us how precious our time really is.
Today, my back is much better.
But the greatest healing was never my spine.
It was my perspective.
Sometimes, life does not need to take everything away to teach us what truly matters.
Sometimes, all it takes is one painful moment on the living room floor to remind us that every heartbeat is a gift.
Since that day, I no longer measure success only by promotions, achievements, or material possessions.
I measure success by the moments I share with the people I love.
By the kindness I leave behind.
By the memories I create.
By the lives I touch.
Because one day, none of us will remember the meetings we attended, the emails we sent, or the deadlines we met.
But our family will remember the time we spent with them.
Our friends will remember how we made them feel.
And the world will remember not what we owned, but what we gave.
If my experience has taught me anything, it is this:
Never wait for a hospital bed to remind you that your health is priceless.
Never wait for loneliness to remind you that your family is your greatest treasure.
Never wait for a close call with life to start truly living.
Every morning we wake up is another chance.
A chance to love.
A chance to forgive.
A chance to grow.
A chance to make today meaningful.
Because life is not measured by the number of years we live—
It is measured by how deeply we live each moment we are given.
Sunday, 26 July 2026
Lirik Petuah Hasehat
Qasidah Melayu judul Petuah Nasehat
Ciptaan H. Jalidar Abd Rahim (Group Nur El Sabah) dari Sumatera Utara
Bila diri ingin dikenang...
Semailah benih...ditengah sawah
Bila diri ingin dikenang...
Semailah benih... ditengah sawah
Bawalah ilmu...padi di ladang
Tambah berisi...tunduk kebawah
Bawalah ilmu...padi di ladang
Tambah berisi...tunduk kebawah
Bila diri ingin terpandang...
Jauhi kata tinggi melambung ...
Bila diri ingin terpandang
Jauhi kata tinggi melambung
Jauhi sifat ayam di kandang...
Bertelur satu ribut sekampung
Jauhi sifat ayam di kandang
Bertelur satu ribut sekampung
Jauhi sifat mengaku pandai
Angkuh dan sombong menepuk dada
Jauhi sifat mengaku pandai
Angkuh dan sombong menepuk dada
Ingat petuah penyu dipantai
Telur beratus namun tak bangga
Ingat petuah penyu dipantai
Telur beratus namun tak bangga
Bila ingin harum bak mawar...
Jauhi sifat meninggi diri...
Bila ingin harum bak mawar..
Jauhi sifat meninggi diri...
Bisa ular tidak kan tawar...
Walau menyuruk batang berduri...
Bisa ular tidak kan tawar...
Walau menyuruk batang berduri...
Lirik Petuah Nasehat
Cover lagu Petuah Nasehat
Ciptaan H. Jalidar Abd Rahim (Group El Sabah) dari Sumatera Utara
Kalaulah pandai meniti buih...
Selamatlah badan sampai ke seberang....
Di dalam hidup banyak rintangan...
Orang yang sabar Tuhan kasihkan...
Hidup banyak rintangan...
Orang yang sabar Tuhan kasihkan...
Tanak pulut santan binasa....
Kerana mulut badan binasa.....
Fikirkan dulu yang hendak dikata....
Jangan ikutkan nafsu semata....
Fikirkan dulu yang hendak dikata.....
Jangan ikutkan nafsu semata....
Kalaulah mandi bergilir - gilir...
Bila terkenang dkerja di sawah...
Hidup di dunia kan terus begini...
Sekali senang, sehari susah...
Hidup di dunia kan terus begini...
Sekali senang, sehari susah....
Kalau lah pandai meniti buih...
Selamatlah badan sampai ke seberang....
Di dalam hidup banyak rintangan...
Orang yang sabar Tuhan kasihkan....
Di dalam hidup banyak rintangan...
Orang yang sabar Tuhan kasihkan....
Saturday, 25 July 2026
Sajak Guru - Jasamu Dikenang oleh Ahmad Sarju
Sajak Guru - Jasamu Dikenang
Segala bakti yang engkau curahkan
mengajar mendidik anak bangsa
segala jasa yang engkau taburkan
menjadi kenangan tak akan kami lupakan.
Engkau laksana pelita di malam gelita
memancarkan sinar sepenuh rela
jiwamu tabah hatimu cekal
kasihmu tinggi semangatmu berkobar
yang tak pernah mengenal erti putus asa
yang tak pernah meminta puji dan puja.
Jasamu tak akan luput dalam ingatan kami
sepanjang hayat mekar di sudut had
tiap sepatah katamu mengisi erti
tiap madahmu mengandungi hikmat
pembentuk peribadi penegak kebenaran
pengatur hidup petunjuk kebahagiaan
Hanya kata - kata ini yang dapat kami lafazkan
terkumpul dari seribu hati menjadi satu
menadah tangan dengan doa restu
kepada Tuhan yang menjanjikan pembalasan
kepadmu guru - guru yang berjiwa mulia
pembimbing petunjuk ke arah maju jaya.
Jujur dan ikhlas engkau berbakti
di kota dan desa atau di hujung negeri
cekal dan tabah menempuh dugaan
hidupmu bagaikan diri menerangi yang kelam
jasamu akan ku kenang sepanjang zaman.
Ahmad Sarju, Klang, 1988
Wednesday, 22 July 2026
Elaeidobius Kamerunicus - The Little Giant
Barely 2 millimetres long, this tiny beetle was introduced from West Africa to Malaysia in the early 1980s to solve one of the oil palm industry's greatest challenges—pollination.
Before its arrival, pollination was carried out manually by thousands of workers, making the process labour-intensive, costly, and inefficient. The introduction of this tiny insect transformed the industry almost overnight. Natural pollination became highly effective, fruit set improved dramatically, bunches became heavier, and oil yields increased significantly.
Its impact reached far beyond the plantation. As fresh fruit bunches grew larger and heavier, palm oil mills had to evolve. Sterilisers were redesigned with larger capacities, and modern three-peak steam sterilisation systems were adopted to process the increased crop efficiently.
This remarkable partnership between nature and science helped propel Malaysia into the golden age of the palm oil industry. Up to 2003, Malaysia had become the world's largest producer of palm oil, a position built not only on engineering and human effort but also on the extraordinary work of a tiny beetle that most people never notice.
Never underestimate the power of small things. Sometimes, the smallest creatures create the biggest revolutions.
