Wednesday, 18 March 2026

Masjid dan Pesta Api Colok di Riau

Rumah Kedua di Bumi Melayu

Ada tanah yang tidak pernah kita jejak, tapi terasa seperti pulang. Ada tempat yang tidak pernah kita kenali, tapi menyapa kita seperti saudara lama. Di Riau, Sumatra, Indonesia, aku menemukan rumah kedua. Bukan rumah yang beratap dan berdinding, tetapi rumah yang dibingkai oleh kehangatan iman dan pesona budaya.

Sejak kakiku mula menapaki bumi yang pernah menjadi saksi bisu kelana Buya Hamka, aku tidak pernah jemu memerhati. Mataku ini bagai kanvas yang terus-menerus dilukis oleh pemandangan baru, jiwaku ini bagai kendi yang terus diisi oleh telaga pengalaman. Meski baru sejengkal dari 17.000 pulau yang kutahu, enam bulan di sini telah mengajarkanku erti sebuah kehidupan yang mungkin tidak akan kutemui di tempat lain. Izinkan aku bercerita, dari hati yang penuh kekaguman, tentang dua hal yang paling membekas.

Pertama, tentang masjid. Bukan sekadar bangunan, tetapi nadinya bumi Riau.

Di sini, kulihat masjid-masjid indah bagai permata yang bertaburan. Bukan indah pada cat dan ukirannya semata, tetapi indah pada maknanya. Setiap kubah yang menjulang, setiap menara yang tegap, adalah bukti bisu bagaimana penduduknya, yang mayoritas muslim, benar-benar membesarkan rumah Allah. Tiada hari tanpa kulihat semangat gotong-royong, tangan-tangan yang menghulur derma, bukan untuk kemegahan dunia, tetapi untuk menyediakan tempat yang selesa dan damai bagi para jemaah bersimpuh.

Ramadan yang baru saja berlalu, selama lebih 28 hari, adalah madrasah terindah. Setiap malam, aku menghadiri solat jemaah dan menunaikan terawih. Oh, menariknya solat terawih di sini! Ada masjid yang menggenapkan 8 rakaat, ada pula yang 23 rakaat, semuanya dijalani dengan khusyuk, seolah-olah setiap rakaat adalah tangga menuju ke langit. Sebelum terawih, seringkali masjid dipenuhi dengan program ceramah, petuah-petuah yang menjadi sumber nasihat, menerangi jalan kami dalam mendepani kehidupan yang penuh ranjau.

Namun, satu malam yang takkan kulupa. Di masjid yang padat dengan jemaah, seorang anak gadis, usianya baru 10 tahun, muncul di hadapan. Dengan suara yang merdu bagai dentingan air mengalir, ia melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. Bukan itu saja, ia menyampaikan pidato ringkas, kata-katanya bersulam nasihat, sarat dengan hikmah di luar usianya. Keberaniannya luar biasa! Bukan semua antara kita memiliki sinar secemerlang itu. Di matanya, aku melihat obor yang kelak akan menyinari agama dan negara. Aku doakan dia, anak kecil itu, kelak menjadi insan besar yang dikenang.

Kedua, tentang Pesta Api Colok. Ketika cahaya menjadi pelita tradisi.

Jika masjid adalah cahaya rohani, maka Pesta Api Colok adalah cahaya budaya yang tak terpadamkan. Seorang teman bercerita, ini adalah pertandingan tahunan. Setiap kampung, setiap daerah, berlumba-lumba mencipta rekabentuk api colok yang paling indah. Semuanya dikerjakan dengan gotong-royong. Para pemuda, dengan semangat yang membara, bahu-membahu memastikan tradisi ini terus hidup. Untuk pertama kalinya, aku berpeluang merasai kemeriahannya.

Bermula pada malam ke-27 Ramadan, api colok mulai dinyalakan, menjulang tinggi menyambut cahaya kemenangan Aidilfitri. Pada satu malam, aku mengajak sahabatku untuk bersama-sama menyelami keunikannya. Kami singgah di dua lokasi, Bundaran dan Mundam. Suasana sungguh meriah! Warga kota berpusu-pusu memenuhi setiap ruang. Riangnya anak-anak kecil bermain bunga api, sinar riang mereka beradu terang dengan nyala api colok yang megah. Para penjual turut mengambil peluang, menjaja pelbagai juadah, dari makanan berat hingga minuman penyegar dahaga. Suasana ini begitu semarak, begitu hidup.

Inilah keunikan yang ada di Riau. Tidak terdapat di mana-mana tempat lain. Mereka tidak sekadar merayakan hari raya, tetapi mereka membesarkan perayaan ini sebagai lambang syukur, lambang persatuan, dan lambang kegemilangan umat. Di antara nyala api colok dan gemerlap lampu masjid, aku tersentuh. Bumi Riau telah mengajarkanku bahawa sebuah rumah bukanlah tentang tempat kita dilahirkan, tetapi tentang tempat di mana hati kita menemukan kedamaian. Dan aku, dengan segala rendah hati, telah menemukannya di sini.

No comments:

Post a Comment