Sajak "Pak Utih" karya Usman Awang adalah sebuah puisi satira sosial tahun 1954 yang menggambarkan kemiskinan petani desa, beban penderitaan keluarga, dan kelalaian janji para pemimpin.
Tema dan Maksud Sajak
- Kehidupan Petani Miskin: Menceritakan Pak Utih
yang bekerja keras di atas tanah tandus demi menyara seorang istri dan
lima orang anak.
- Penyakit dan Kesulitan: Menyoroti bagaimana
keluarga kecil itu tersiksa oleh penyakit malaria tanpa akses perobatan
yang sempurna.
- Kritik Sosial: Menyindir pihak penguasa atau
pemimpin yang lupa daratan dan mengabaikan nasib rakyat kecil setelah
mereka berkuasa.
Sajak Pak Utih
Punya satu isteri mau dakap sampai mati,
Lima anak mau makan setiap hari,
Teratak tua digayuti cerita
pusaka,
Sebidang tanah tandus untuk huma.
Kulit tangan tegang berbelulang,
Biasa keluarkan peluh berapa
saja,
O Pak Utih, petani yang berjasa.
Tapi malaria senang menjenguk
mereka,
Meski dalam sembahyang doa
berjuta,
Dan Mak Utih bisa panggil dukun
kampung,
Lalu jampi matera serapah berulang-ulang.
Betapa Pak Dukun dan bekalan
pulang,
Wang dan ayam dara diikat
bersilang.
II
Di kota pemimpin
berteriak-teriak,
Pilihanraya dan kemerdekaan
rakyat,
Seribu kemakmuran dalam negara
berdaulat,
Jambatan mas kemakmuran sampai ke
akhirat.
Ketika kemenangan bersinar
gemilang,
Pemimpin atas mobil maju ke
depan, dadanya terbuka,
Ah, rakyat tercinta melambaikan
tangan mereka.
Di mana-mana jamuan dan pesta
makan,
Ayam panggang yang enak di depan,
Datang dari desa yang dijanjikan
kemakmuran.
Pak Utih masih menanti dengan
doa,
Bapak-bapak pergi ke mana di
mobil besar?
Usman Awang, 1954
No comments:
Post a Comment