Tuesday, 28 July 2026

Pak Utih Usman Awang 1954


Sajak "Pak Utih" karya Usman Awang adalah sebuah puisi satira sosial tahun 1954 yang menggambarkan kemiskinan petani desa, beban penderitaan keluarga, dan kelalaian janji para pemimpin. 

Tema dan Maksud Sajak

  • Kehidupan Petani Miskin: Menceritakan Pak Utih yang bekerja keras di atas tanah tandus demi menyara seorang istri dan lima orang anak.
  • Penyakit dan Kesulitan: Menyoroti bagaimana keluarga kecil itu tersiksa oleh penyakit malaria tanpa akses perobatan yang sempurna.
  • Kritik Sosial: Menyindir pihak penguasa atau pemimpin yang lupa daratan dan mengabaikan nasib rakyat kecil setelah mereka berkuasa. 

 

Sajak Pak Utih

Punya satu isteri mau dakap sampai mati,

Lima anak mau makan setiap hari,

Teratak tua digayuti cerita pusaka,

Sebidang tanah tandus untuk huma.

Kulit tangan tegang berbelulang,

Biasa keluarkan peluh berapa saja,

O Pak Utih, petani yang berjasa.

 

Tapi malaria senang menjenguk mereka,

Meski dalam sembahyang doa berjuta,

Dan Mak Utih bisa panggil dukun kampung,

Lalu jampi matera serapah berulang-ulang.

 

Betapa Pak Dukun dan bekalan pulang,

Wang dan ayam dara diikat bersilang.

 

II

Di kota pemimpin berteriak-teriak,

Pilihanraya dan kemerdekaan rakyat,

Seribu kemakmuran dalam negara berdaulat,

Jambatan mas kemakmuran sampai ke akhirat.

Ketika kemenangan bersinar gemilang,

Pemimpin atas mobil maju ke depan, dadanya terbuka,

Ah, rakyat tercinta melambaikan tangan mereka.

 

Di mana-mana jamuan dan pesta makan,

Ayam panggang yang enak di depan,

Datang dari desa yang dijanjikan kemakmuran.

 

Pak Utih masih menanti dengan doa,

Bapak-bapak pergi ke mana di mobil besar?

Usman Awang, 1954


No comments:

Post a Comment