Wednesday, 31 August 2011

Nabi pun dianggap pengkhianat


Khairul Azlam Mohamad

MARANG, 30 Ogos: Dunia hari ini akan menghukum bahawa Nabi Muhammad s.a.w. adalah pengkhianat kepada bangsa dan tanahair, kata Presiden PAS, Datuk Seri Tuan Guru Abdul Hadi Awang.

Ini, katanya kerana Nabi s.a.w. menyerang bangsa dan tanahairnya sendiri di Mekah dan kaum Arab yang dipimpin oleh bapa mertuanya, Abu Suffian.

“Tidak, tidak sekali-kali kerana bangsanya menganut ajaran jahiliah, ajaran syaitan dengan meninggalkan syariat Allah SWT,” tegasnya semasa berkhutbah Idulfitri di Masjid Rusila, hari ini.

Pada ketika itu, jelasnya di bahagian timur Semenanjung Tanah Arab dijajah oleh Parsi dan baratnya oleh Rom.

“Mekah dibebaskan, Mekah dimerdekakan. Dimerdekakan daripada siapa? Dimerdekakan daripada jahiliah, bukan jahiliah Parsi, bukan jahiliah Inggeris, jahiliah Perancis, jahiliah Cina dan India. Mekah dibebaskan dari jahiliah Arab, sebangsa dengan Nabi s.a.w.,” jelasnya di hadapan lebih 3,000 jemaah.

Katanya, Mekah dijajah oleh jahiliah Arab, dengan itu Nabi s.a.w. memimpin para sahabat untuk membebaskan Mekah daripada jahiliah bangsanya sendiri.

Tegasnya, Mekah dibebaskan daripada jahiliah kerana kemerdekaan yang sebenar ialah mengabdikan diri kepada Allah SWT.

Beliau yang juga ahli parlimen marang berkata, tidak ada kemerdekaan selagi tidak mengabdikan diri kepada Allah SWT.

“Selagi sembahyangnya tidak mengadap Allah, selagi syariat dan hukum-hakamnya tidak mengikut syariat dan hukum-hakam Allah, tidak dinamakan merdeka dalam erti kata yang sebenar,” jelasnya.

Tegasnya, perjuangan memerdekakan manusia dengan hanya mengabdikan diri kepada Allah.

“Ketahuilah, umat Islam belum merdeka daripada penjajah Inggeris, penjajah Perancis, penjajah Itali, penjajah Komunis, penjajah Cina, Rusia dan lain-lain selagi mereka tidak melaksanakan Islam di tanahair mereka.

“Selagi hukum Islam tidak berdaulat, syariat Allah tidak diamalkan semuanya, menandakan perjuangan kita belum selesai, perjuangan untuk menyambung risalah yang dibawa oleh Nabi Muhamad s.a.w. belum selesai,” ujarnya lagi.

Terjemahan Takbir Raya


Allah Maha Besar
Allah Maha Besar
Allah Maha Besar

Tiada Tuhan melainkan Allah
Allah Maha Besar

Allah Maha Besar
dan segala puji bagi Allah

Allah Maha Besar
Allah Maha Besar
Allah Maha Besar

Allah Maha Besar dan Maha Agong
dan segala puji bagi Allah

Maha Suci Allah pada pagi dan petang
Tiada Tuhan melainkan Allah

Tiada yang kami sembah kecuali Allah
Dengan ikhlas kami beragama kepadaNya
Walaupun orang-orang kafir membenci

Tiada Tuhan melainkan Allah sendiriNya
Benar janjiNya
dan Dia mengurniakan kemenangan kepada hambaNya
Dia mengusir musuh NabiNya dengan sendiriNya

Tiada Tuhan melainkan Allah
Allah Maha Besar

Allah Maha Basar
dan segala puji bagi Allah

Allah Maha Besar
Allah Maha Besar
Allah Maha Besar

Tiada Tuhan melainkan Allah
Allah Maha Besar

Allah Maha Basar
dan segala puji bagi Allah

Akhlak Keluarga Sakinah

Dahsyatnya ujian tersebut menyebabkan banyak bahtera rumah tangga yang kandas dan tidak bisa berlabuh lagi, bahkan hancur berkeping-keping. Sang istri ditelantarkan dengan tidak dididik, bahkan tidak diberikan nafkah. Sehingga muncul awak-awak bahtera yang tidak taat kepada nakhoda. Awak yang tidak mengerti tugas dan kewajibannya, berjalan sendiri dan mencari kesenangan masing-masing. Inilah pertanda kecelakaan dan kehancuran. Sang anak dibiarkan seakan-akan tidak memiliki ayah, sebagai seorang pemandu dan pembela yang akan mengarahkan dan melindungi. Seakan-akan tidak memiliki ibu, yang akan memberikan luapan kasih sayang dan perhatian yang dalam. Masing-masing berjalan pada keinginan dan kehendaknya, tidak merasa adanya keterikatan dengan yang lain. Sang nakhoda berjalan di atas dunianya, sang istri dan sang anak di atas dunia yang lain. Saling tuduh dan saling vonis serta saling mencurigai akan terus berkecamuk, berujung dengan perpisahan. Akankah gambaran keluarga tersebut mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan? Bahkan itulah pertanda malapetaka yang besar dan dahsyat.

Suratan Taqdir, memang problem dalam berumah tangga adalah sebuah suratan taqdir yang mesti ada dan terjadi. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala telah menurunkan syariat-Nya untuk membimbing ke jalan yang diridhai dan dicintai-Nya. Jalan yang akan mengakhiri problem tersebut. Sebuah suratan yang tidak akan berubah dan tidak akan dipengaruhi oleh keadaan apapun. Mungkin kita akan menyangka, suratan taqdir tersebut tidak akan menimpa orang-orang yang taat beribadah dan orang-orang mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Tentu tidak demikian keadaannya. Nabi Nuh ‘alaihissalam berseberangan dengan istri dan anaknya. Nabi Luth ‘alaihissalam dengan istrinya yang jelas-jelas mendukung perbuatan keji dan kotor: laki-laki “mendatangi” laki-laki. Hal ini telah diceritakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam firman-Nya:

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (Jahannam)’.” (At-Tahrim: 10)


Ujian dalam berumah tangga tentu akan lebih besar dibanding ujian yang menimpa individu. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya ketika menjelaskan tujuan ilmu sihir dipelajari dan diajarkan: “Maka mereka mempelajari dari keduanya, apa yang dengan sihir itu, mereka dapat mencerai-beraikan antara seorang (suami) dengan istrinya.” (Al-Baqarah: 102)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengutus bala tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Datang kepadanya seorang tentaranya lalu berkata: ‘Aku telah berbuat demikian-demikian.’ Iblis berkata: ‘Engkau belum berbuat sesuatu.’ Dan kemudian salah seorang dari mereka datang lalu berkata: ‘Aku tidak meninggalkan orang tersebut bersama istrinya melainkan aku pecah belah keduanya.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Lalu iblis mendekatkan prajurit itu kepadanya dan berkata: ‘Sebaik-baik pasukan adalah kamu.’ Al-A’masy berkata: ‘Aku kira, (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: ‘Lalu iblis memeluknya.”

(HR. Muslim no. 5302)

Bila iblis telah berhasil menghancurkannya, ke mana sang anak mencari kasih sayang? Hidup akan terkatung-katung. Yang satu ingin mengayominya, yang lain tidak merestuinya. Alangkah malang nasibmu, engkau adalah bagian dari korban Iblis dan bala tentaranya. Kalau demikian keras rencana busuk Iblis terhadap keluarga orang-orang yang beriman, kita semestinya berusaha mencari jalan keluar dari jeratan dan jaring yang dipasang oleh Iblis, yaitu dengan belajar ilmu agama.

Bahkan keluarga terbaik, mulia dan dibangun oleh seorang terbaik, imam para nabi dan rasul, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ummahatul Mukminin, juga tak lepas dari duri-duri dalam berumah tangga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah marah kepada isteri beliau ‘Aisyah dan Hafshah, sampai beliau memberikan takhyir (pilihan) kepada keduanya dan kepada isteri-isteri beliau yang lain: apakah tetap bersama beliau ataukah memilih dunia. Kemudian seluruh istri beliau lebih memilih bersama beliau. (lihat secara detail kisahnya dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari no. 4913, 5191 dan Muslim no. 1479)

Cerita menantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu bersama puteri beliau Fathimah radhiyallahu ‘anha -dan kita mengetahui kedudukan beliau berdua di dalam agama ini- juga tidak terlepas dari kerikil-kerikil berumah tangga. Telah diceritakan oleh Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Nama yang paling disukai oleh ‘Ali adalah Abu Turab. Dia senang sekali dengan nama yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu. Suatu hari, ‘Ali marah kepada Fathimah, lalu dia keluar dari rumah menuju masjid dan berbaring di dalamnya. Bertepatan dengan kejadian tersebut Rasulullah datang ke rumah puterinya, Fathimah, namun beliau tidak mendapatkan ‘Ali di rumah. “Mana anak pamanmu itu?”, tanya beliau. “Telah terjadi sesuatu antara aku dan dia, dan dia marah padaku lalu keluar dari rumah. Dia tidak tidur siang di sisiku,” jawab Fathimah. Rasulullah berkata kepada seseorang: “Lihatlah di mana Ali.” Orang yang disuruh tersebut datang dan mengabarkan: “Wahai Rasulullah, dia ada di masjid sedang tidur.” Rasulullah mendatanginya, yang ketika itu ‘Ali sedang berbaring dan beliau dapatkan rida`-nya (kain pakaian bagian atas) telah jatuh dari punggungnya. Mulailah beliau mengusap pasir dari punggungnya seraya berkata: Duduklah wahai Abu Turab. Duduklah wahai Abu Turab.” (HR. Al-Bukhari no. 3703 dan Muslim no. 2409)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Teladan dalam Berumah Tangga

Meniti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupan berumah tangga adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim yang menginginkan kebahagiaan dalam berumah tangga. Hal ini masuk dalam keumuman firman Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Qur`an:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Allah Subhanahu wa ta’ala telah bersumpah tentang keagungan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.” -Dan di dalam sebuah riwayat-: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kebagusan akhlak.” (HR. Al-Imam Ahmad di dalam Musnad (2/318) dan Al-Imam Al-Bukhari di dalam Al-Adab no. 273 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

“Rasulullah adalah orang yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Al-Bukhari no. 6203 dan Muslim no. 659 dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada saudaranya tatkala datang berita diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Pergilah engkau ke lembah itu dan dengar apa ucapannya.” Kemudian dia kembali lalu menyampaikan:

“Aku melihat dia memerintahkan kepada budi pekerti yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 3861 dan Muslim no. 2474)

Seseorang tidak akan menemukan kekecewaan bila dia menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri teladan dalam semua tatanaan kehidupannya. Baik ketika dia seorang diri, berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dia akan berbahagia di saat banyak orang dirundung kesedihan. Dia akan tentram di saat orang-orang dirundung kegelisahan. Dia akan terbimbing di saat semua orang tersesat jalannya. Dia akan tabah dan sabar di saat orang lain gundah gulana.

"Dan jika menaatinya niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk.” (An-Nur: 54)

Hisyam bin ‘Amir berkata kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Wahai Ummul Mukminin, beritahukan kepadaku tentang akhlak Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidakkah kamu membaca Al-Qur`an?” Hisyam bin Amir berkata: “Iya.” ‘Aisyah berkata:

“Akhlak Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur`an.” (HR. Muslim no. 746)


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Keluarga Beliau

Sungguh amat sangat menarik bila dikaji kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama istri-istri beliau. Sebuah kehidupan indah, yang mestinya ditulis dengan tinta emas, dan telah diabadikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala hingga hari kiamat. Sehingga setiap umat beliau yang kembali ke jalan As-Sunnah akan mengetahui hal itu. “Indahnya hidup bersama Sunnah Rasulullah”, itulah ucapan yang akan keluar dari orang yang telah mencium aroma As-Sunnah walaupun sedikit. Mari kita menelaah beberapa riwayat tentang indahnya hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama keluarga beliau, yang semuanya itu merupakan buah dari akhlak yang mulia dan agung.

Telah disebutkan di dalam kitab-kitab As-Sunnah seperti kitab Shahih Al-Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasa`i dan selain mereka. Lihat nukilan beberapa riwayat dalam kitab Ash-Shahihul Musnad Min Syama`il Muhammadiyyah. (1/384-420, karya Ummu Abdullah Al-Wadi’iyyah)


1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kelembutan beliau bersama istri-istrinya. Beliau tidur satu selimut, beliau mandi berduaan dan mencium istrinya sekalipun dalam keadaan berpuasa, serta bercumbu rayu sekalipun dalam keadaan haid, sebagaimana hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 1807) dari Hafshah radhiyallahu ‘anha dan datang pula dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari (no. 1928) dan Muslim (no. 1851): “Rasulullah mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa.”. Bahkan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha (HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 322 dan Muslim 444) bercerita kepada Zainab putrinya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menciumnya dalam keadaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa, dan beliau radhiyallahu ‘anha pernah mandi bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sebuah bejana dalam keadaan junub.


2. Rasulullah menyenangkan istrinya dengan sesuatu yang bukan merupakan maksiat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Aku melihat Rasulullah menutupi aku dengan selendangnya, dan aku melihat kepada anak-anak Habasyah yang sedang bermain di masjid hingga akulah yang bosan.” (HR. Al-Bukhari)


3. Berbincang-bincang bila memiliki kesempatan. Sebagaimana dalam riwayat dari sahabat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Rasulullah shalat dalam keadaan duduk dan membaca dalam keadaan duduk. Dan bila masih tersisa dalam bacaannya sekitar 30 atau 40 ayat, beliau berdiri dan membacanya dalam keadaan berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan sujud. Dan beliau lakukan hal itu pada rakaat kedua bila beliau menunaikan shalatnya. Jika aku bangun, beliau berbincang-bincang denganku dan bila aku tidur beliau juga tidur.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan istrinya. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Tatkala dia bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan, dia berkata: ‘Aku berlomba lari dengan beliau dan aku memenangkannya.’ Tatkala aku gemuk, aku berlomba (lagi) dengan beliau dan beliau memenangkannya. Beliau berkata: “Kemenangan ini sebagai balasan atas kemenanganmu yang lalu.” (HR. Abu Dawud, 7/423 dan Ahmad, 6/39)


5. Khidmat (pelayanan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rumah tangga. Diriwayatkan dari Aswad, dia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Apa yang diperbuat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumahnya?” Dia berkata: “Beliau selalu membantu keluarganya, dan bila datang panggilan shalat beliau keluar menuju shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 676, 5363 dan Ahmad, 6/49)


6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersenda gurau dengan istrinya, dengan menyebutkan satu sifat yang ada pada diri sang istri, sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. (HR. Al-Bukhari no. 5228 dan Muslim no. 4469).


7. Rasulullah menyenangkan istrinya dengan cara minum dari bekas mulut istrinya dan makan dari bekas tempat makan istrinya, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. (HR. Muslim no. 300) 8. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam cemburu melebihi kecemburuan para sahabat beliau. Sa’d bin ‘Ubadah berkata: “Jika aku menjumpai seseorang bersama istriku niscaya aku akan memenggalnya dengan pedang pada sisi yang tajam.” Sampailah ucapan itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau bersabda: “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’d? Sungguh, aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku.” (HR. Al-Bukhari no. 6846 dan Muslim no. 2754)


Beberapa contoh yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah sebagai aplikasi dari wujud taqarrub kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan semata-mata kebahagiaan dunia. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Apabila seseorang mempergauli istrinya dengan cara yang baik, janganlah semata-mata hanya untuk mendapatkan kebahagiaan dunia semata. Bahkan hendaknya dia berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan melaksanakan apa yang diwajibkan atasnya. Masalah ini terlalaikan dari banyak orang. Dia berniat hanya melanggengkan pergaulannya semata dan dia tidak berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka hendaklah setiap orang mengetahui bahwa dia sedang melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala: ‘Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik’.” (Asy-Syarhul Mumti’, 5/357)


Beberapa Akhlak Menuju Keluarga Sakinah

Setiap orang muslim meyakini tentang kedudukan akhlak dalam kehidupan individu, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Di sini, ada beberapa akhlak dan adab yang harus ada pada suami-istri, yakni berupa hak di antara keduanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” (Al-Baqarah: 228)


1. Keduanya memiliki sifat amanah. Jangan sekali-kali salah satu dari keduanya mengkhianati yang lain, karena mereka berdua tak ubahnya dua orang yang sedang berserikat, sehingga dibutuhkan amanah, menerima nasihat, jujur dan ikhlas di antara keduanya dalam segala kondisi.


2. Memiliki kasih sayang di antara keduanya. Sang istri menyayangi suami dan begitu juga sebaliknya, sang suami menyayangi istrinya. Ini merupakan perwujudan firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Rum: 21)


3. Menumbuhkan rasa saling percaya antara kedua belah pihak. Jangan sekali-kali terkotori dengan keraguan terhadap kejujuran, amanah, dan keikhlasannya.


4. Lemah lembut, wajah yang selalu ceria, ucapan yang baik dan penuh penghargaan. Hal ini masuk dalam keumuman firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Bergaullah dengan mereka secara patut.” (An-Nisa`: 19). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Inginkan dan lakukan kebaikan untuk kaum wanita.” (Lihat Minhajul Muslim, 1/102). Wallahu a’lam. (Sumber: Majalah Asy Syariah, Vol. IV/No. 39/1429H/2008, kategori: Akhlak, hal. 47-51). (Ibnu S/Red & Admin/23/01/2010

Ref
http://www.babinrohis-nakertrans.org/artikel-islam/meniti-keluarga-sakinah-dengan-akhlak-terpuji

Pernikahan




1. Takrif Nikah :

i) Dari segi bahasa : Ikatan atau simpulan.
ii) Dari segi istilah Syarak : Suatu Ikatan atau akad yang menghalalkan pergaulan dan membatas hak dan kewajipan serta bertolong-tolong di antara seorang lelaki dengan seorang perempuan yang di antara keduanya bukan mahram.

2. Perkahwinan adalah merupakan sunnah Rasulullah s.a.w. dan digalakkan di dalam Islam serta dituntut oleh Hukum Syarak, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :

" Nikah itu adalah sunnahku, maka sesiapa yang benci sunnahku maka sesungguhnya ia bukan dari golonganku ". ( Riwayat Ibnu Majah )

3. Dalil yang menunjukkan bahawa perkahwinan itu dituntut oleh syarak adalah seperti berikut :

  • Dalil dari Al-Quran yang bermaksud :

    "Maka berkahwinlah dengan sesiapa yang kamu berkenan dari perempuan-perempuan lain dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu bimbang tidak akan berlaku adil( di antara isteri-isteri kamu) maka berkahwinlah dengan seorang sahaja". ( Surah An - Nisaa' - Ayat 3 )

  • Dalil dari As-sunnah yang bermaksud:

    "Wahai pemuda-pemuda, sesiapa yang mampu di antara kamu (mempunyai belanja serta keinginan) hendak berkahwin, hendaklah ia kahwin, kerana sesungguhnya perkahwinan itu akan memejamkan matanya (terhadap orang yang tidak halal dilihatnya) dan terkawal kehormatannya dan sesiapa yang tidak mampu berkahwin hendaklah ia berpuasa, bahawa puasa itu menjadi benteng". ( Riwayat Muslim )


  • Dari Ijmak Ulama : Semua ulama sepakat mengatakan bahawa hukum perkahwinan itu adalah dituntut oleh Hukum Syarak.
Ref ; Jabatan Mufti Melaka
http://www.al-azim.com/masjid/infoislam/munakahat/home.htm

`Aqiqah




PENGERTIAN ‘AQIQAH

* ‘Aqiqah ialah sembelihan binatang an‘am yang dilakukan kerana menyambut kanak-kanak yang baru dilahirkan sebagai tanda kesyukuran kepada Allah subhanahu wata‘ala.

HUKUM MELAKUKAN ‘AQIQAH

* Hukum melakukan ‘aqiqah ialah sunnah mu’akkadah bagi orang yang menanggung sara hidup kanak-kanak tersebut. Jika anak itu lelaki disunatkan menyembelih dua ekor kambing, manakala jika anak itu perempuan disunatkan menyembelih seekor kambing. Binatang seperti lembu, kerbau atau unta boleh dibahagikan kepada tujuh bahagian.

WAKTU PELAKSANAAN ‘AQIQAH

* Waktu melakukan ‘aqiqah adalah dari hari kelahiran kanak-kanak itu sehinggalah ia baligh. Masa yang paling afdhal untuk melakukan ‘aqiqah adalah pada hari ketujuh kelahiran kanak-kanak tersebut.

* Sabda Rasullullah sallallahu ‘alayhi wasallam:

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ , وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى .

Maksudnya:
"Setiap bayi itu tergadai dengan ‘aqiqahnya. Disembelih untuknya pada hari ketujuh dan dicukur kepalanya dan diberi nama."
(Riwayat Abu Daud)

SYARAT ‘AQIQAH

1. Berniat ‘aqiqah ketika menyembelih.

2. Hendaklah binatang tersebut tidak ada cacat yang boleh mengurangkan dagingnya serta sampai umur.

PERKARA SUNAT SEMASA ‘AQIQAH

1. Berdoa semasa hendak menyembelih:


بِسْمِ اللهِ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَإِلَيْكَ عَقِيْقَةٌ ... (sebut nama anak)
Maksudnya:
"Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, binatang ini daripada-Mu dan kembali kepada-Mu, ini ‘aqiqah…".

2. Menyembelih ketika matahari sedang naik.

3. Daging ‘aqiqah dimasak terlebih dahulu sebelum disedekahkan.

4. Tidak mematah-matahkan tulang-tulang daripada binatang ‘aqiqah, hanya mencerai-ceraikan sendi-sendinya.

5. Menyedekahkan daging ‘aqiqah kepada fakir miskin.

6. Memasak daging ‘aqiqah dengan cara gulai manis untuk dihidangkan kepada tetamu.



PERKARA YANG PERLU DILAKUKAN KETIKA MENYAMBUT KELAHIRAN ANAK

1. Mengazankan di telinga sebelah kanan anak yang baru lahir.

2. Membaca iqamah di telinga sebelah kirinya.

3. Membaca doa di kedua-dua belah telinganya, contohnya membaca surah Al-Ikhlas.

4. Menyapu lelangit kanak-kanak tersebut dengan benda-benda yang manis seperti buah tamar atau pisang.

5. Menamakan kanak-kanak tersebut dengan nama-nama yang baik pada hari ketujuh kelahirannya.

6. Mengadakan jamuan dan doa kesyukuran sempena kelahirannya.

7. Mencukur rambut kanak-kanak tersebut selepas menyembelih ‘aqiqah untuknya.

8. Memberi sedekah emas atau perak seberat rambut kanak-kanak yang dicukur itu atau wang yang sama nilai dengan emas atau perak tersebut.

9. Menyedekahkan daging ‘aqiqah kepada fakir miskin.



HIKMAH ‘AQIQAH

1. ‘Aqiqah mengandungi beberapa hikmah, antaranya:
2. Sebagai tanda kesyukuran kita kepada Allah kerana telah mengurniakan anak.
3. Untuk mengisytiharkan kepada masyarakat umum tentang anugerah yang dikurniakan oleh Allah.
4. Untuk memulakan kehidupan anak dengan perkara-perkara kebaikan.
5. Mengeratkan hubungan silaturrahim antara ahli-ahli masyarakat dengan keluarga yang dikurniakan anak.
6. Melahirkan rasa kegembiraan kerana mendapat zuriat yang menepati sunnah Rasulullah.

Perbezaan antara ‘aqiqah dan qurban.

Terdapat beberapa perbezaan antara ‘aqiqah dengan qurban:

1. ‘Aqiqah tidak terikat pada masa tertentu, sedangkan qurban dilakukan pada masa-masa tertentu, iaitu selepas sembahyang dan khutbah Hari Raya ‘Aidil Adha hingga 13 Zulhijjah.

2. Daging ‘aqiqah boleh diberi milik kepada orang kaya manakala daging qurban hanya boleh diberi kepada fakir miskin.

3. ‘Aqiqah dilakukan sempena menyambut kelahiran anak sebagai tanda kesyukuran kepada Allah, manakala qurban dilakukan kerana memperingati peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan anaknya, Isma‘il.

4. Daging qurban sunat disedekahkan secara mentah, sedangkan daging ‘aqiqah sunat disedekahkan setelah dimasak.

Ref ; Jabatan Mufti Melaka
http://www.al-azim.com/masjid/infoislam/ibadat/aqiqah.htm

Tuesday, 30 August 2011

Melayu Kelantan 60,000 tahun


Thursday, 11 August 2011 00:54

Oleh Anwar Hussin

Kajian USM dapati sub-etnik penduduk paling asal di Semenanjung

KOTA BHARU: Sekumpulan penyelidik Universiti Sains Malaysia (USM) yang melakukan kajian berhubung asal usul bangsa Melayu melalui kaedah genetik menunjukkan Melayu Kelantan kemungkinan besar orang Melayu paling asal menetap di Semenanjung sejak lebih 60,000 tahun. Kumpulan penyelidik diketuai Timbalan Dekan (Penyelidikan dan Pengajian Siswazah), Pusat Pengajian Sains Kesihatan USM, Prof Madya Dr Zafarina Zainuddin yang mendapat geran RM1.4 juta daripada Kementerian Pengajian Tinggi, melakukan kajian terhadap 10 sub-etnik Melayu di Semenanjung Malaysia bagi mengetahui asal usul Melayu.

Sub-etnik berkenaan adalah Melayu Jawa di Johor dan Selangor, Melayu Aceh (Perak), Melayu Minang (Negeri Sembilan), Melayu Banjar (Selangor dan Johor), Melayu Bugis (Selangor dan Johor), Melayu Rawa (Perak), Melayu Champa (Perak, Kedah dan Kelantan), Patani (Kelantan), Melayu Kelantan dan Kedah Langkasuka.

(Berita Harian, 4 Ogos 2011, ms 4, Nasional)

Ref

http://www.usm.my/index.php/en/papercutting/8726-melayu-kelantan-60000-tahun.html

Kampung Tok Lukup Bab 3

Pemandangan indah dari Sungai Raja Gali
Pantai Dasar Sabak

Pantai yang indah permai
Peta

Bab 2 (klik sini)


Kampung Tok Lukup Bab 2

Inilah gambar satelit terkini Kampung Tok Lukup setelah lebih 25 tahun ditinggalkan

Bab 1 Sejarah
1.1 Diasaskan pada akhir tahun 1890 an.
1.2 Kampung ini bertahan sehingga akhir tahun 1985 iaitu lebih kurang 100 tahun setelah ditubuhkan.
1.3 Hj. Yaakup iaitu pengasas kampung ini datang dari keluarga berada dan berasal dari Kg. Kemumin iaitu 20 km dari Kg. Tok Lukup.
1.4 Setelah berkahwin, beliau membeli tanah dan menubuhkan kampung tersebut. Beliau mempunyai visi dan misi apabila melihat kesuburan tanah, lokasi dan tempat terbabit.

Bab 2 Lokasi / Geografi / Ekonomi
2.1 Kampung ini terletak di pesisir pantai Negeri Kelantan. Berselebahan dengan Pantai Dasar Sabak dan Pantai Pulau Pak Amat.
2.2 Tanah rata, bersawah padi dan dilingkari Sungai Raja Gali menghala ke muara. Di seberang, ada tanjung dan pantai menghala ke Lautan China Selatan.
2.3 Sumber pendapatan utama penduduk kampung ini adalah tanaman padi dan menangkap ikan. Semasa zaman kegemilangan kampung ini merupakan jelapang padi, tanah yang sumber dan terkenal di seluruh Kelantan.
2.4 Hasil padi yang banyak juga memberikan sumber rezeki serta menambah kekayaan Hj Yaakup sehingga dapat membeli lebih banyak tanah.
2.5 Tanah tersebut diwarisi turun - temurun hingga ke anak cucu beliau. Keluasan tanah terbabit boleh menampung lebih 30 keluarga dan 15 buah rumah di seluruh kampung.
2.6 Selain tanaman padi, disebabkan berdekatan dengan sungai dan muara lautan, penduduk kampung ini juga menangkap ikan sebagai sumber rezeki. Ikan sembilang, udang serta banyak sumber sungai menambahkan kemakmuran kampung ini.

Bab 3 Zaman Kemajuan / Zaman Kegemilangan (1900 - 1970)/ Zaman Kemerosotan (1971- 1985)
3.1 Zaman Kemajuan


Awal tahun 1900 an, padi merupakan pendapatan utama penduduk sekitar Kemumin. Berasal daripada keluarga petani, Hj. Yaakup cukup rajin mengerjakan tanah yang dibeli sekitar kampung yang baru ditubuhkan.

Ilmu pertanian yang sudah diwarisi turun temurun terus menjadi pemangkin kejayaan beliau menanam padi dan mejadi sumber kekayaan beliau. Setiap kali hasil dituai, beliau akan melabur dan membeli tanah serta kawasan baru. Hasil daripada kegigihan beliau, keturunannya semakin berkembang daripada sebuah rumah kepada 15 belas buah rumah.


Kesemua kesemua penduduk kampung terdiri daripada anak - anak dan cucu beliau. Rumah beliau terletak di Gong Gelap. Di sebelah rumahnya terletak Surau. Kebanyakan rumah anak - anaknya dan cucu dibina di atas tanah yang diwarisi oleh Hj. Yaakub.


Bab 4 Saudara Mara
4.1 Memori suka duka

Bab 5 Terkini
Bab 6 Masa Depan

Layari Bab 1 (Klik sini)

Saturday, 27 August 2011

Pemuliharaan Alam Sekitar



BERHARI RAYA MENURUT SUNNAH NABI

Oleh: Amru Alhaz Bin Adnan

Setelah genap sebulan Umat Islam berhempas pulas menjalankan ibadah berpuasa, kini tibalah masanya meraikan kejayaan itu dengan penuh kegembiraan dan kemeriahan. Seluruh Umat Islam di Dunia dan Malaysia khususnya meraikan sambutan Eidul Fitri dengan bentuk dan adat yang berbeza,. Bagi rakyat Malaysia sambutan Eidul Fitri disambut dengan acara ziarah menziarahi sanak saudara dengan memakai pakaian yang terbaik dan cantik-cantik. Seluruh ahli keluarga berhimpun dan berkumpul bersama. Sebaliknya Umat Islam di sebahagian Tanah Arab pula meraikan cuti umum hari raya dengan membawa ahli keluarga keluar makan, tidak kurang juga yang pergi berkelah dan bersiar-siar. Apa pun jenis dan cara sambutan mereka, kesemuanya pasti menyambut hari raya dengan penuh kegembiraan dan keseronokan.

Di sebalik kemeriahan sambutan Eidul Fitri, Islam telah meletakkan garis panduan berkaitan tatacara menyambut hari kebesaran. Inilah masa untuk kita semua membuktikan bahawa kita benar-benar telah menjadi seorang insan yang bertakwa selaras dengan natijah ibadah berpuasa itu disyariatkan. Junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w turut sama meraikan hari lebaran ini dengan penuh kegembiraan dan keseronokan. Hal ini boleh dilihat dengan tindakan Rasulullah s.a.w sendiri membenarkan penduduk Madinah al-Munawwarah bergembira apabila munculnya hari raya Eidul Fitri dan Eidul Adha. Anas bin Malik r.a berkata:

"Nabi s.a.w pernah datang ke Madinah sedangkan penduduknya memiliki dua hari raya yang mana mereka bermain-main (bergembira) di masa jahiliah pada kedua-dua hari itu.

Lalu baginda berkata: Aku datang kepada kamu semua sedangkan kamu memiliki dua hari (raya) yang menjadi medan permainan kalian pada masa jahiliyyah.

Sabdanya lagi: Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua-dua hari itu dengan yang lebih baik, iaitu hari raya Aidiladha dan Aidilfitri.” ( Hadis Riwayat al-Nasaai)


Persoalan yang timbul ialah sejauh mana kesedaran kita selaku Umat Islam memastikan tatacara kita meraikan hari lebaran ini tidak bercanggah daripada anjuran dan sunnah baginda Rasulullah S.A.W.


Amalan Bertakbir

Amalan bertakbir pada 1 syawal merupakan amalan yang disyariatkan Bermula sebaik sahaja terlihatnya hilal (maghrib 1 syawal ) dan berakhir sehingga imam selesai berkhutbah di pagi Syawal. Firman Allah S.W.T:

"Supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadan), supaya kamu membesarkan Allah (dengan bertakbir) kerana telah memberi petunjuk-Nya kepada kamu dan supaya kamu bersyukur." – Surah al-Baqarah : 185

Ketika seluruh kaum keluarga berkumpul beramai-ramai pada malam hari raya, ramai yang melupakan anjuran bertakbir. Kita lebih selesa menonton rancangan –rancangan hiburan di kaca televisyen, tidak kurang juga yang berkesempatan berkaraoke sehingga larut malam. Jika ditinjau di masjid-masjid sebenarnya tidak ramai yang memanfaatkan peluang yang ada menyertai jemaah malaungkan kalimah agung yang suci ini.

Satu perkata yang perlu ditekankan juga ialah anjuran Rasulullah agar Umat Islam bertakbir dengan suara yang lantang ketika dalam perjalanan dari rumah menuju ke tempat menunaikan Solat Sunat Eidul Fitri walaupun kebanyakan Umat Islam memandang remeh sunnah ini. Bertakbir dengan cara sebegini antara lain sebenarnya bertujuan menyerlahkan keagungan syiar Islam di samping menjadi contoh kesepakatan umat Islam di mata masyarakat bukan Islam.


Lafaz Ucapan Hari Raya

Lafaz ucapan hari lebaran seperti “Selamat Hari Raya Maaf Zahir Batin” sudah menjadi sinonim bagi Umat Islam di Malaysia. Namun, cara dan lafaz yang lebih bertepatan dalam meneladani sunnah Baginda ialah berdasarkan apa yang diceritakan oleh al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani yang dinukilkan daripada Jubair bin Nufair katanya:

“Apabila para sahabat Rasulullah s.a.w bertemu di hari raya, sebahagian daripada mereka mengucapkan kepada sebahagian yang lain dengan ucapan ‘Taqabbalullah minna waminka’ (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalanmu).”


( Kitab Fath al-Bari)


Justeru, mulai daripada syawal 1431h pada tahun ini, adalah tidak salah kita mulakan lafaz hari lebaran dengan ucapan indah yang bertepatan dengan anjuran sunnah Rasulullah S.A.W.


Etika Pemakaian

Umum mengetahui, merupakan satu sunnah kaum muslimin menghiaskan diri dengan pakaian terbaik dan tercantik pada hari raya. Imam Syafie menyebut di dalam Kitab al-Umm:

"Aku lebih menyukai seseorang memakai pakaian terbaik yang dimilikinya pada hari-hari raya, iaitu pada hari Jumaat, dua hari raya (Aidiladha dan Aidilfitri) dan tempat diadakan majlis (seperti majlis perkahwinan). Dia hendaklah memakai baju yang bersih dan memakai wangi-wangian."

Adapun bagi kaum wanita pula walaupun sunnah hukumnya memakai pakaian yang terbaik, namun mereka hendaklah mengelakkan diri daripada memakai pakaian yang boleh menarik perhatian kaum lelaki seperti pakaian yang terlalu bercorak-corak, pakaian nipis yang menampakkan bentuk tubuh badan serta perhiasan yang berlebih-lebihan. Mereka juga dilarang sama sekali memakai wangi wangian yang berlebihan sehingga menarik perhatian orang disekelilingnya. Sabda Rasulullah s.a.w:

"Mana-mana wanita yang memakai wangian lalu dia melintas di hadapan lelaki supaya mereka dapat menghidu kewangiannya, dia adalah penzina." ( Hadis riwayat al-Nasaai)

Realiti yang berlaku, ramai para wanita yang tidak pandai mengukur had-had dan etika pemakaian mereka ketika berhari raya sehingga ramai yang kelihatan berpakaian tetapi sebenarnya mereka bertelanjang. Dalam keadaan ini, pahala sunnah yang diharapkan bertukar menjadi dosa jika tidak dipelihara batasan-batasannya..

Kesimpulannya, Setiap usaha dan amalan yang bertujuan meneladani sunnah merupakan batu loncatan kita mengharapkan syafaat Nabi Muhammad S.A.W. Percayalah, amalan sunnah itu dirasakan sesuatu yang asing kerana kita selaku Umat Islam sendiri yang menjadikannya asing. Mudah-mudahan, sambutan hari raya Aidilfitri yang bakal menjelma ini dapat disambut dengan penuh penghayatan dan kemeriahan selari dengan perintah Allah dan RasulNya.


Ref

http://www.masjidnegara.gov.my/portal/index.php?option=com_content&view=article&id=121&Itemid=90

Tuesday, 23 August 2011

Nasihat Saidina Ali tentang Dunia

Sayidina Ali karramallahu-wajhah pernah berpidato suatu masa, katanya:

Ketahuilah, bahawa kamu semua akan mati, dan dibangkitkan sesudah mati. Kamu akan ditanya dari hal amalan-amalan kamu dan akan dibalas terhadap kesemuanya, maka jangan sampai kamu diperdayakan oleh kehidupan dunia kerana yang demikian itu diserikan dengan berbagai-bagai bala bencana yang tetap akan menarik kamu kepada kebinasaan.

Semua yang ada pada dunia itu adalah tipudaya semata dan dia akhirnya akan hilang lenyap, bila dia berada denganmu dia adalah penuh tipu muslihat, kesenangannya tidak kekal, dan tiada seorang pun akan selamat dari kejahatannya. Sementara penghuninya dalam keadaan gembira dan sukacita tiba-tiba ditimpa bahaya dan bencana, hal-ehwalnya berubah-ubah tidak tetap, kehidupannya tercela dan kemewahan di dalamnya mempunyai cita-cita yang tak menentu maka dunia akan melemparnya dengan anak panah lalu membinasakannya. Semua orang akan mati mengikut takdir dan ketentuan, tidak lebih dan tidak kurang.

Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahawasanya kamu dan apa yang kamu rasakan dari dunia ini adalah sama sahaja dengan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang terdahulu dari kamu, malah umur mereka lebih panjang dari kamu, kekuatan mereka lebih teguh dibandingkan dengan kamu, rumah mereka lebih kukuh, bekas yang ditinggalkan mereka masih kelihatan sampai sekarang, namun suara-suara mereka tidak kedengaran lagi sesudah laungannya bergema begitu lama, tubuh-tubuh mereka hancur luluh, rumah-rumah mereka yang berupa pondok-pondok sudah tidak kelihatan lagi sedang bekas-bekasnya masih tinggal dan terlihat.

Mereka kini telah berubah dari tempat tinggal yang berupa istana-istana yang terindah dengan katil-katil yang terseri dengan bantal-bantalnya yang empuk, bangunan-bangunannya yang tersusun dengan batu-bata yang kilau-kemilau, sekarang berganti kubur-kubur yang berselerak dengan tulang-belulang yang hancur-luluh sebagai tempat tinggalnya orang-orang terbuang yang sangat ditakuti untuk didekatinya, mereka tidak merasa senang lagi dengan perubahan pembangunan yang ada di sisinya, dan tidak berhubung mesra dengan jiran tetangga yang sibuk memakmurkan sekitarannya dengan bangunan dan perubahan di antara teman dengan teman padahal mereka hanya sejengkal sahaja dari tempatnya.

Bagaimana dapat mereka berhubung mesra lagi? Padahal tubuh badan mereka telah dimakan masa, tulang belulang mereka berselerak merata-rata, mereka dahulu hidup gagah sekarang bangkai tidak bernyawa, hidup mereka dahulu mewah sekarang hampa belaka, orang yang rapat menjauhkan diri setelah mereka tinggal di bawah tanah sendiri, mereka tidak akan kembali lagi, jauh panggang dari api.

"Bahkan itulah satu perintah yang telah ditetapkan Tuhan Perkasa, dan di belakang mereka Barzakh, mereka kekal di situ hingga hari mereka dibangkitkan." (Al-Mu'minun: 100)

Mudah-mudahan Allah menggolongkan kami dan kamu dalam kumpulan orang-orang yang beramal dengan isi kitabNya serta menurut jejak langkah para Auliya'Nya sehingga Dia menempatkan kami dan kamu sekalian di dalam syurga yang kekal abadi dengan kurniaNya, sesungguhnya Dia Maha Terpuji Maha Mulia.

Berkata Sayidina Ali karramallahu-wajhah dalam pidatonya:

Aku berpesan kepada kamu supaya banyak bertaqwa kepada Allah dengan membelakangi dunia yang akan meninggalkan kamu meskipun kamu tidak mudah untuk meninggalkannya. Dunia akan menghancur-luluhkan tubuh kamu sedang kamu terus ingin memperbaharuinya. Hanyasanya perumpamaan kamu dengan dunia itu adalah ibarat sekumpulan manusia yang dalam pelayaran, mereka telah melalui satu jalan dan mereka menyangka telah melewatinya, mereka bergantung kepada satu pengetahuan yang mereka ingat telah sampai kepadanya. Betapa ramai orang yang berlari yang sampai ke kemuncaknya, dan betapa ramai orang yang mengharap panjang pada dunia tiba-tiba terpaksa berpisah dengannya. Oleh itu jangan sekali-kali kamu merungut kerana keburukan dunia dan kesusahannya, dan jangan sekali-kali kamu merasa sukaria kerana harta-benda dunia dan kenikmatannya, semua itu akan hilang lenyap daripadamu. Aku rasa hairan melihat orang yang mengejar dunia sedang maut mengikutinya dari belakang. Dia sentiasa lalai yang dirinya akan mati, tidak pernah ingat yang mati itu akan menimpanya.

Isi surat dari Sayidina Ali kpd Salman Al-Farisi:
"Dunia itu adalah seumpama ular, lembut sentuhannya, tetapi bisanya mematikan, maka berpalinglah anda dengan menjauhkan diri dari semua sesuatu yang menimbulkan kekaguman anda padanya (dunia) kerana (akan menjadi) sedikit sesuatu yang menyertai anda dari (bahaya) dunia itu."

Kalimat Saiyidina Ali ini merupakan peringatan kpd Salman Farisi pada khususnya dan ummat Islam pada umumnya ttg hakikat pangkat keduniaan. Bukan tidak boleh kita menduduki pangkat keduniaan itu, tetapi beliau memperingatkan supaya pada kita ada ketahanan mental atau ketahanan bathin, sehingga kita dapat mengendalikan pangkat keduniaan itu demi utk keselamatan kita di dunia dan akhirat. Apabila ketahanan mental atau bathin kita tidak ada dalam diri kita, maka kita akan terpengaruh dari kekaguman kita terhadap dunia yang sedang kita pegang.

Oleh sbb itu maka keimanan kpd Allah subhanahu wa ta`ala yang kuat dan mantap adalah sangat diperlukan, sehingga kesusahan dunia dengan segala kepahitannya dapat diatasi, kerana pangkat dunia yang sedang kita hadapi ini adalah berjalan atas niat yang baik, yakni mencari keredhannya dalam erti yang luas.

Pertanyaan sebahagian sahabat kpd Rasulullah aollallahu `alaihi wasallam dalam Hadis Nabi sebagai berikut:
"Siapakah wali-wali Allah yang tidak takut dan gundah? Nabi sollallahu `alaihi wasallam menjawab: Ialah orang-orang yang selalu memperhatikan bathin dunia pada ketika manusia memperhatikan lahiriah dunia. Dan mereka itu pula mementingkan lahiriah dunia pada ketika ummat manusia mementingkan dunia di waktu sekarang."

Dari Hadis ini, bahawa wali-wali Allah meskipun mereka memegang dunia, apakah mereka merupakan sebagai raja atau seorang yang kaya, mereka itu tidak melihat kepada lahiriah dunia, tetapi mereka melihat kpd bathin dunia itu dan hakikatnya. Sebab mereka mengetahui, bahawa dunia itu tidak abadi, tetapi hanya sebentar sahaja. Sedangkan yang abadi adalah faedah yang mereka dapatkan daripada menempatkan dunia itu pada tempatnya dalam erti 'sebagai alat utk mencari keredhaan Allah subhanahu wa ta`ala'

Berlainan dgn manusia biasa, mereka berlumba-lumba mencari keuntungan dunia sekarang juga tanpa memikirkan keridhaan Allah pada pekerjaannya itu. Sedangkan wali-wali Allah melihat kpd penglihatan yang jauh, yakni masa-masa setelah kita berpisah dengan dunia yang fana', mulai dari alam barzakh hingga sampai ke alam akhirat yang kekal lagi baqa.


Ref
http://www.mhds-sg.org/Blog/tabid/58/EntryId/142/Nasihat-Sayidina-Ali-Tentang-Dunia.aspx

Sunday, 21 August 2011

Production, product, selling, marketing and holistic marketing concept.

(a) Production Concept
Consumers will prefer products that are widely available and inexpensive. Managers of production-oriented businesses concentrate on achieving high production efficiency, low costs, and mass distribution.

(b) Product Concept
Consumers will favour those products that offer the most quality, performance, or innovative features. Managers focus on making superior products and improving them over time.

(c) Selling Concept
Consumers and businesses, will ordinarily not buy enough of the organization's products, therefore, the organization must undertake aggressive selling and promotion efforts.

(d) Marketing Concept
The company is being more effective than competitors in creating, delivering, and communicating superior customer value to its chosen target markets in order to achieve organizational goals.

There are three market orientations:
(i) Reactive market orientation·understanding and meeting consumer's expressed needs.
(ii) Proactive marketing orientation·researching or imagining latent consumer's needs through a probe-and-learn process.
(iii) Total market orientations · companies that practice both a reactive and proactive marketing orientations.

(e) Holistic Marketing Concept
This concept is based on the development, design, and implementation of marketing programs, processes, and activities that recognize the breath and inter dependencies of their efforts.

Holistic marketing recognizes that everything matters with marketing - the consumer, employees, other companies, competition, as well as society as a whole.


Customer Satisfaction

RULE:

IF PERCEPTION = EXPECTATION = SATISFACTION

IF PERCEPTION < EXPECTATION = DISSATISFACTION

Satisfaction
is a person's feelings of pleasure or disappointment resulting from comparing a product's perceived performance (or outcome) in relation to his or her expectations.

If the performance falls short of expectations, the customer is dissatisfied. If the performance matches the expectations, the customer is satisfied.

If the performance exceeds expectations, the customer is highly satisfied or delighted.

Buyers form their expectations from past buying experience, friends' and associates' advice, and marketers' and competitors' information and promises.

The company must operate on the philosophy that it is trying to deliver a high level of customer satisfaction subject to delivering acceptable levels of satisfaction to the other stakeholders, given its total resources.

What is Marketing?

There are several definitions of marketing as described below:

(a) The American Marketing Association:
"Marketing is an
organizational function and a set of processes for creating, communicating and delivering value to customers and for managing customer relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders."

(b)
Marketing management is
"the art and science of
choosing target markets and getting, keeping and growing customers through creating, delivering and communicating superior customer value."

(c) A social definition of marketing is that
"marketing is societal process by which individuals and groups obtain what they need and want through creating, offering and freely exchanging products and services of value with others."

Classified Competitors

  1. Number of sellers
  2. Degree of product differentiation
  3. Presence or absence or entry
  4. Mobility
  5. Exit barriers
  6. Cost structure
  7. Degree of vertical integration
  8. Degree of globalisation

Competitive Forces

  1. Threat of intense segment rivalry
  2. Threat of new entrants
  3. Threat of substitute products
  4. Threats of buyers' growing bargaining power
  5. Threat of suppliers' growing bargaining power

Roles of Brand Elements

Brand Equity>Brand Elements>Roles

  1. Easily recognized
  2. Easily recalled
  3. Inherently descriptive (permanent)
  4. Persuasive (become aware)

Brand Elements

Creating Brand Equity>Choosing Brands Elements

6 criteria in choosing brand elements :

  1. Memorable
  2. Meaningful
  3. Likeabilility
  4. Transferable
  5. Adaptable
  6. Protectible

Needs and Trends

Analysing the Macroenvironment>Needs and Trends

FAD means
Unpredictable, short-lived and without social, economic and political significance.

TREND is
a direction or sequence of events that had some momentum and durability. Trends are more predictable and durable than fads. A trend reveals the shape of the future and provides many opportunities.

MEGATRENDS described as
large social, economics, political and technology changes (that) are slow to form and once in place, they influence us for some time between seven and ten years or longer.

My Mother by Yusoff Islam

Contents of the Marketing Plan

Developing Marketing Strategies and Plans>Product Planning>Contents of the Marketing Plan

The contents of the marketing plan are described below;-

1. Executive summary and table of contents.
The executive summary permits senior management to grasp the plan's major thrust. A table of contents that outlines the rest of the plan and all the supporting rationale and operational detail should follow the executive summary.

2. Situation analysis.
This section presents relevant background data on sales, costs, the market, competitors, and the various forces in the macro environment.
How is the market defined, how big is it, and how fast is it growing?
What are the relevant trends affecting the market?
What is the product offering and what are the critical issues facing the company?

Pertinent historical information can be included to provide context. All this information is used to carry out a SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats) analysis.

3. Marketing strategy.
In marketing strategy, product manager defines the mission and marketing and financial objectives. The manager also defines those groups and needs that the market offerings are intended to satisfy.
The manager then establishes the product line's competitive positioning, which will inform the "game plan" to accomplish the plan's objectives. All this is done with inputs from other organisational areas, such as purchasing, manufacturing, sales, resources, to ensure that the company can provide proper support for effective implementation. The marketing strategy should be specific about the branding strategy and customer strategy that will be employed.

4. Financial projections.
Financial projections include a sales forecast, an expense forecast, and a break-even analysis. On the revenue side, the projections show the forecasted sales volume by month and product category.
On the expense side, the projections show the expected costs of marketing, broken down into finer categories. The break-even analysis shows how many units must be sold monthly to offset the monthly fixed costs and average per unit variable costs.

5. Implementation controls.
This section outlines the controls for monitoring and adjusting implementation of the plan. The goals and budget are spelled out for each month or quarter so management can review each period's results and take corrective action as needed.

A number of different internal and external measures must be taken to assess progress and suggest possible modifications. Some organisations include contingency plans outlining the steps management would take in response to specific environmental developments, such as price wars or strikes.